- 28 Agustus 2025
NAHDLIYIN.COM – Di sebuah desa kecil bernama Pucangrejo, di perbatasan Pegandon dan Ngampel, pada 17 Agustus 1926 lahirlah seorang anak yang kelak menjadi salah satu tokoh besar Nahdlatul Ulama di Kendal. Ia diberi nama Kurer, namun sejarah lebih mengenalnya sebagai KH Imron Rosidi. Tepat di hari bangsa merayakan kemerdekaannya di tahun-tahun berikutnya, beliau tumbuh menjadi sosok kiai pejuang yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk NU, umat, dan tanah kelahirannya.
Putra dari KH Abdur Rosyid dan Nyai Hj Azizah ini menempuh jalan panjang pencarian ilmu. Sejak muda, ia tekun menimba pengetahuan agama kepada KH Abdul Wahab Gubugsari, dari siapa ia mendapat ijazah wirid Tarekat Syathariyah. Perjalanan spiritualnya membawanya hingga ke tangan KH Musyaffa, yang kemudian membaiatnya sebagai mursyid tarekat. Dari sinilah jalan dakwahnya ditempa: mengajarkan ilmu, menghidupkan tarekat, dan menyalakan ruh perjuangan NU di Kendal.
Kiai Imron bukanlah tipe tokoh yang tiba-tiba muncul di pucuk pimpinan. Ia menapaki jalan dari bawah: mulai ranting, kecamatan, hingga akhirnya dipercaya menjadi Syuriah PCNU Kendal selama dua periode (1982–1992). Di tangannya, NU Kendal semakin kokoh sebagai benteng akidah ahlussunnah wal jamaah.
Namun pengabdian beliau tidak berhenti pada organisasi. Kiai Imron mendirikan madrasah, TPQ, dan majelis taklim, membekali generasi muda dengan ilmu agama dan masyarakat dengan siraman ruhani. Dari kampung kecil Pucangrejo, lahirlah denyut perjuangan yang terus menguatkan NU di Kendal.
Sekitar tahun 1950, Kiai Imron memulai babak baru dalam hidupnya dengan menikahi Nyai Hj Munawaroh. Dari pernikahan penuh keberkahan itu, lahirlah sembilan putra-putri yang menjadi penerus doa dan perjuangannya: Istianah, Fathoniyah, Imronah, Umrotun, Abdul Wahid Solihin, Solkan, Nuriyah, Mohammad Adib, dan Siti Anisah. Dalam didikan beliau, keluarga bukan sekadar rumah tangga, melainkan juga madrasah pertama untuk menanamkan nilai tirakat, keikhlasan, dan semangat perjuangan.
Kesederhanaan yang Menjadi Teladan
Meski menjabat sebagai Rois Syuriah, Kiai Imron tetap rendah hati. Ia tak segan mengayuh sepeda onthel dari rumah menuju Desa Donosari, hanya untuk mengaji kepada KH Ghozali. Ketika ditanya mengapa masih mengaji padahal sudah menjadi kiai besar, jawabnya menyejukkan:
“Untuk menggugurkan kewajiban. Rasulullah SAW bersabda, menuntut ilmu itu dimulai dari ayunan hingga liang lahat.”
Sebagai ayah, Kiai Imron mendidik anak-anaknya dengan kesabaran dan tirakat. Pesan yang paling membekas bagi putra-putrinya adalah:
“Tirakato sing kuat, ikhtiyaro sing mempeng; InsyaAllah oleh hasil sing maksimal.”
(Tirakat yang kuat dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, niscaya akan memperoleh hasil maksimal.)
KH Imron Rosidi bukan hanya seorang mursyid tarekat atau pengurus NU. Ia adalah tokoh besar yang mewariskan jejak pengabdian, menjadikan kesederhanaan sebagai kemuliaan, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya perjuangan. Dari Pucangrejo, semangatnya menyebar ke seluruh Kendal, meninggalkan teladan yang tak lekang dimakan waktu.